Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat saya berada di Taman Union Square, di daerah pedalaman San Francisco, mendistribusikan sejumlah buku. Sebuah festival seni sedang berlangsung, dan saya menyelinap keluar-masuk areal taman untuk menghindari dipergoki oleh petugas keamanan.
Sekitar pukul 10:30 saya melihat sesosok wajah yang sangat familiar melintas bersama keluarganya. Ternyata orang itu adalah Robin Williams, seorang aktor dan komedian terkenal Amerika. Untuk bisa mendapatkan perhatiannya, saya mengibas-ngibaskan buku-buku yang sedang ada di tangan saya dan melambai-lambaikannya di dekat wajahnya saat ia berjalan menuju arah saya berdiri.
Terlihat agak kaget, ia pun tersenyum ke arah saya. Saya langsung
berkata, “Coba katakan apa yang Anda lihat ini, dengan cepat.”
“Yang saya lihat buku—tapi Anda pasti tidak akan menyebutnya sekedar buku, kan?”
“Benar. Yang sedang saya perlihatkan kepada Anda adalah kunci untuk menyelami masa lampau, masa kini, dan masa depan. Dan dengan menggunakan kunci ini, Anda dapat menyingkirkan segala kecemasan.”
“Anda punya keahlian improvisasi yang bagus. Anda semestinya jadi pengabar kitab suci.”
“Nah, saya ada di sini untuk jadi teman Anda saja. Saya fans berat karya-karya [film] Anda dan sangat terkesan dengan “Ke Mana Mimpi Dapat Membawa Kita” ("What Dreams May Come"). Vibrasinya sangat bagus, dan saya sangat mengapresiasi kedalamannya. Apakah Anda menikmati memerankannya?”
“Ya. Itu membuat saya mulai memandang dunia dengan cara yang berbeda.”
“Well, inilah langkah berikutnya, kawanku. Perasaan saya mengatakan bahwa dengan membuat film itu menjadikan Anda haus akan hal seperti ini.”
Kemudian saya perlihatkan lima buku kepadanya: Di Luar Kelahiran dan Kematian, Rasa Yang Lebih Tinggi, Kesempatan Kedua, Bhagavad-gita, dan Prabhupada Lilamrta. Ia terpesona melihat gambar-gambar sampulnya dan ingin tahu harga buku-buku tersebut.
“Berapa saja yang menurut Anda layak sebagai nilai dari buku-buku ini,” Jawab saya. “Sebenarnya saya tidak memasang harga untuk sesuatu yang transenden seperti ini, sehingga saya tidak tahu berapa harganya. Setulus hati Anda saja lah.”
Kelihatannya ia senang mendengar jawaban saya, karena kemudian ia berkata, “Saya apresiasi kejujuran Anda. Ada sifat ketulusan sejati pada diri Anda. Saya ambil buku-buku ini.”
Saya menyerahkan kepadanya lima buku itu dan ia memberi saya lembaran lima puluh dollar. Saya mengucapkan terimakasih atas rasa ketertarikan yang ia perlihatkan dan berkata, “Terima kasih. Semoga ini bermuara pada karma yang baik. Mohon bersedia mengucapkan mantra ini demi mendoakan diri saya. Anda mau kan?
Ia menjabat tangan saja dan saya berkata kepadanya, “Itulah nyawa saya, dan saya akan mengucapkannya juga untuk mendoakan Anda.”
Pelayan Anda, Bhakta Rock
http://iskconbookdistribution.com/robin-williams-gets-books/
“Yang saya lihat buku—tapi Anda pasti tidak akan menyebutnya sekedar buku, kan?”
“Benar. Yang sedang saya perlihatkan kepada Anda adalah kunci untuk menyelami masa lampau, masa kini, dan masa depan. Dan dengan menggunakan kunci ini, Anda dapat menyingkirkan segala kecemasan.”
“Anda punya keahlian improvisasi yang bagus. Anda semestinya jadi pengabar kitab suci.”
“Nah, saya ada di sini untuk jadi teman Anda saja. Saya fans berat karya-karya [film] Anda dan sangat terkesan dengan “Ke Mana Mimpi Dapat Membawa Kita” ("What Dreams May Come"). Vibrasinya sangat bagus, dan saya sangat mengapresiasi kedalamannya. Apakah Anda menikmati memerankannya?”
“Ya. Itu membuat saya mulai memandang dunia dengan cara yang berbeda.”
“Well, inilah langkah berikutnya, kawanku. Perasaan saya mengatakan bahwa dengan membuat film itu menjadikan Anda haus akan hal seperti ini.”
Kemudian saya perlihatkan lima buku kepadanya: Di Luar Kelahiran dan Kematian, Rasa Yang Lebih Tinggi, Kesempatan Kedua, Bhagavad-gita, dan Prabhupada Lilamrta. Ia terpesona melihat gambar-gambar sampulnya dan ingin tahu harga buku-buku tersebut.
“Berapa saja yang menurut Anda layak sebagai nilai dari buku-buku ini,” Jawab saya. “Sebenarnya saya tidak memasang harga untuk sesuatu yang transenden seperti ini, sehingga saya tidak tahu berapa harganya. Setulus hati Anda saja lah.”
Kelihatannya ia senang mendengar jawaban saya, karena kemudian ia berkata, “Saya apresiasi kejujuran Anda. Ada sifat ketulusan sejati pada diri Anda. Saya ambil buku-buku ini.”
Saya menyerahkan kepadanya lima buku itu dan ia memberi saya lembaran lima puluh dollar. Saya mengucapkan terimakasih atas rasa ketertarikan yang ia perlihatkan dan berkata, “Terima kasih. Semoga ini bermuara pada karma yang baik. Mohon bersedia mengucapkan mantra ini demi mendoakan diri saya. Anda mau kan?
Ia menjabat tangan saja dan saya berkata kepadanya, “Itulah nyawa saya, dan saya akan mengucapkannya juga untuk mendoakan Anda.”
Pelayan Anda, Bhakta Rock
http://iskconbookdistribution.com/robin-williams-gets-books/











